SIMEULUE, IDBN.News -Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Ir. Iskandar, meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kabupaten Simeulue.
Permintaan ini disampaikannya langsung saat menjumpai kepala BWS I Ir. Asyari, dikantornya Banda Aceh, selasa (7/4). Tujuan utama yakni, mendukung program strategis nasional di bidang ketahanan pangan, khususnya program cetak sawah.
Menurut Iskandar, Kabupaten Simeulue memiliki potensi lahan pertanian yang cukup luas. Hanya saja, potensi tersebut belum didukung secara optimal, sebab, ketersediaan sarana dan prasarana, terutama sistem pengairan irigasi yang tak memadai.
keterbatasan akses air, sebut Politisi Golkar ini, menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi para petani. Itu sebabnya, kehadiran program JIAT melalui pengeboran air tanah dinilai penting sebagai solusi efektif dalam mengatasi kekurangan air lahan persawahan.
“Program JIAT ini sangat penting untuk menjawab kebutuhan air bagi petani, apalagi Di Simeulue belum memiliki sistem irigasi yang memadai,” ujar Iskandar, Rabu, (8/4).
Desakan tersebut juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dalam rangka mendukung swasembada pangan nasional.
Secara detail, Iskandar lantas memaparkan, JIAT sendiri merupakan sistem irigasi yang memanfaatkan air bawah tanah atau akuifer melalui sumur bor atau sumur dalam. Air tersebut kemudian dipompa ke permukaan dan disalurkan ke lahan pertanian melalui jaringan pipa maupun saluran irigasi. Program ini menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya air di wilayah kerja Sumatera I, termasuk Provinsi Aceh.
Dalam hal ini, BWS Sumatera I memiliki peran strategis dalam pengelolaan sumber daya air, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga operasi dan pemeliharaan infrastruktur irigasi. Selain itu, lembaga ini juga bertanggung jawab dalam pengembangan jaringan irigasi, pengendalian daya rusak air seperti banjir, pengamanan pantai, serta konservasi sumber daya air.
Peran tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan, seperti pembangunan sumur bor irigasi, penyediaan infrastruktur pompa dan jaringan pipa, pembinaan kelompok tani pengguna air, hingga pengawasan penggunaan air tanah agar tetap berkelanjutan.
Tak hanya itu, BWS Sumatera I juga aktif dalam pembangunan jaringan irigasi di daerah kering, rehabilitasi saluran irigasi yang rusak, pengendalian banjir di wilayah rawan, serta pengembangan embung dan waduk skala kecil.
Itu sebabnya, Keberadaan BWS Sumatera I dinilai esensional dalam mendukung ketahanan pangan di Aceh. Selain menjamin ketersediaan air bagi sektor pertanian, peran lembaga ini juga berkontribusi dalam mengurangi risiko bencana seperti banjir dan kekeringan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Menutup penjelasan persnya, Iskandar mengungkap optimismenya, jika program JIAT terakomodir di Kabupaten Simeulue, itu berarti, upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional akan berjalan lebih optimal di daerah tersebut.
“Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, saya yakin produktivitas pertanian di Simeulue akan meningkat dan program ketahanan pangan nasional dapat tercapai,” pungkasnya.**





