• Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Indeks Berita
IDBN News
Advertisement
  • Daerah
  • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
  • Internasional
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Keuangan
  • Wisata
  • Islam
No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
  • Internasional
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Keuangan
  • Wisata
  • Islam
No Result
View All Result
IDBN News
No Result
View All Result

Makam laksamana laut perempuan pertama di dunia

by
6 Januari 2024
in Daerah, Wisata
Makam laksamana laut perempuan pertama di dunia
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FcebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Tanah Aceh merupakan wilayah yang memiliki banyak sekali situs/bangunan cagar budaya yang mencerminkan kemewahan dan kedigdayaan pemerintahan kesultanan Aceh tempo dulu. Dimana hingga saat ini hal tersebut masih dapat kita telusuri melalui ragam peninggalan cagar budaya.

Kabupaten Aceh Besar sendiri merupakan Kabupaten yang mempunyai rekam jejak sejarah yang cukup erat dengan perkembangan pemerintahan kesultanan Aceh. Banyak sekali dijumpai situs/bangunan cagar budaya baik itu berupa makam, banteng hingga masjid-masjid kuno. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar disini sebagai salah satu instansi yang ikut berperan menjaga dan mengenalkan ragam situs/bangunan cagar budaya ini kepada khalayak ramai. Dengan tujuan agar sejarah yang ada ini tidak dilupakan, dan dapat diketahui. Target utama adalah para generasi muda terutama pelajar, agar mereka dapat mempelajari sejarah daerah asalnya.

Lukisan Laksamana Keumalahayati

Salah satu nama besar yang ikut berjuang melawan penjajah di Tanah Rencong tempo dulu, adalah seorang wanita yang namanya tercatat dalam buku sejarah dan dikenal seluruh dunia. Seorang wanita yang menjadi laksamana laut perempuan pertama di dunia, dialah Laksamana Keumalahayati.

Laksamana Keumalahayati menurut data sejarah  lahir pada tahun 1875 M, berasal dari keluarga bangsawan Aceh, ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah pada Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah sendiri merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) yang juga merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Kemungkinan karena ia keturunan dari bangsawan dan juga ayah dan kakeknya sendiri sebagai pelaut, meskipun ia sebagai seorang perempuan Keumalahayati muda sangat berkeinginan untuk juga menjadi pelaut yang tangguh mengikuti bakat ayah dan kakeknya tercinta yang pernah menjadi Laksamana angkatan laut.

Ketika usianya beranjak remaja dan telah menamatkan pendidikan  setingkat  sekolah menengah, serta ilmu agama Islam yang ia tuntut sejak kecil baik pada Rangkang maupun Dayah.  Keumalahayati diberi kebebasan oleh orangtuanya  untuk memilih pendidikan yang diinginkan, karena naluri maritimnya yang kian menguat perempuan keturunan bangsawan ini memilih menuntut ilmu pada Akademi Militer dengan jurusan Angkatan Laut yang memang dimiliki Kesultanan Aceh Darussalam dengan nama Baitul Maqdis pada waktu itu.

Dalam menempuh pendidikan pada Akademi Militer Baitul Maqdis dengan prestasinya yang gemilang Keumalahayati sempat berkenalan dengan seorang seniornya yang menempuh pendidikan di tempat yang sama dan keduanya pun sepakat untuk berumah tangga, sehingga ketika keduanya menyelesaikan pendidikan pada Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis mereka pun melangsungkan pernikahan.

Setelah menamatkan pendidikan Keumalahayati pertama sekali diangkat oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al Mukammil  sebagai komandan protokol Istana,  selanjutnya setelah  pertempuran sengit antara Kesultanan Aceh melawan Portugis di teluk Aru meskipun Aceh dapat memenangkan pertempuran tersebut, Kesultanan Aceh harus mengikhlaskan kehilangan dua orang Laksamana dan ratusan prajurit termasuk salah satunya suami dari Keumalahayati. Sejak saat itu pula Laksamana Keumalahayati yang telah berstatus Balee (Janda) akan meneruskan perjuangan dan bertekad menuntut balas serta meneruskan perjuangan suaminya tercinta

Atas persetujuan Sultan, Laksamana Keumalahayati membentuk sebuah armada Aceh yang semua prajuritnya terdiri dari kaum perempuan janda ( Inong Balee ) yang ditinggal mati suaminya masing-masing karena gugur dalam perang Teluk Aru yang kemudian diberi nama Pasukan Inong Balee (Perempuan Janda) dibawah pimpinan Laksamana Keumalahayati.

Laksamana Keumalahayati sendiri merupakan Laksamana perempuan pertama di dunia, ia bersama pasukan Inong Balee dalam perjuangan memilih Lhok Lam Reh sebagai pangkalan militernya dengan membangun sebuah Benteng di sebuah perbukitan  kawasan tersebut yang sampai kini masih dapat dikunjungi.

Nama Keumalahayati menggemparkan negara Belanda setelah peristiwa peperangan di atas kapal Belanda di perairan Aceh pada tanggal 11 September 1599.

Keumalahayati berhasil membunuh kapten kapal penjelajah Belanda, Cornelis de Houtman, dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.

Keberhasilan dan keberaniannya membuat Keumalahayati mendapat gelar Laksamana yang merupakan gelar tertinggi di Angkatan Laut Kerajaan Aceh.

Lakseumana Keumalahayati sendiri setelah meninggal dan dimakamkan di atas sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 50 meter diatas permukaan laut tidak jauh dari Lhok Lamreh tempat ia berpangkalan dan berjarak sekitar lima ratus meter dari Kuta Inong Balee sebutan lain untuk Benteng Lakseumana Keumalahayati.

Makam Pimpinan pasukan Inong Balee itu kini masuk dalam wilayah Gampong Lamreh Kemukiman Krueng Raya Kecamatan Mesjid Raya. Saat memasuki komplek tersebut pengunjung akan menaiki tangga menuju bukit kecil tempat peristirahatan terakhirnya. Di Bawah sebuah bangunan cungkup yang dibangun pihak Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Aceh terdapat dua buah makam dengan nisan berukir yang berbentuk pipih, yang satu makam Laksamana Keumalahayati dan satunya lagi masih belum dapat diketahui pasti siapa pemiliknya. Sebuah guci besar peninggalan tempo dulu tersedia di tempat itu sebagai tempat mengambil air untuk mencuci muka pada makam tersebut  bagi yang menghendakinya.

Untuk mencapai makam Pahlawan Nasional RI Laksamana Keumalahayati yang juga sangat menarik untuk dikunjungi sebagai obyek wisata, pengunjung harus menaiki tangga yang telah dibuat permanen sekitar dua puluh meter setelah memarkirkan kendaraan ditempat yang telah disediakan. Traveler dapat menggunakan segala jenis kendaraan dengan jalan aspal hanya berjarak sekitar seratus meter dari pintu gerbang memasuki pelabuhan laut Malahayati Aceh Besar, berjarak 45 kilometer dari Kota Banda Aceh.

Dalam mengenang serta menghargai jasa-jasa perempuan tangguh dari kerajaan Aceh Darussalam, melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115 TK Tahun 2017 Tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, Presiden RI Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Laksamana Keumalahayati melalui upacara yang diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta Kamis 5 November 2017.

Generasi Penerus selayaknya harus mengetahui rekam sejarah dimasa lalu, khususnya Aceh yang memiliki kilas sejarah yang memukau dan diakui dunia. Salah satunya sosok Laksamana Keumalahayati, yang makam nya masih dapat kita kunjungi saat ini. Lokasi ini juga dapat menjadi destinasi wisata budaya dan sejarah dengan pemandangan yang indah. Maka di samping bisa menikmati wisata alam yang mempesona juga jangan ditinggalkan wisata religi penuh sejarah. Seperti halnya makam seorang perempuan hebat dan pemberani di negeri yang bersyariah ini. (ARP)

Penulis: Arif Rizky Pratama

Tags: Pahlawan NasionalPariwisata
Previous Post

Closing Ceremony Gayo Culture Festival 2023

Next Post

Tradisi “Seumeuleung” Memperingati Hari Pelantikan Peneguhan Atau Penabalan Raja Sultan Alaidin Riayat Syah

Related Posts

No Content Available
Next Post
Tradisi “Seumeuleung” Memperingati Hari Pelantikan Peneguhan Atau Penabalan Raja Sultan Alaidin Riayat Syah

Tradisi "Seumeuleung" Memperingati Hari Pelantikan Peneguhan Atau Penabalan Raja Sultan Alaidin Riayat Syah

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Indeks Berita

© 2026 Idbn.News - Informasi Terkini dan Terpercaya .

No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
  • Internasional
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Keuangan
  • Wisata
  • Islam

© 2026 Idbn.News - Informasi Terkini dan Terpercaya .