Bagi wisatawan yang datang dari luar Aceh biasanya mereka akan memilih waktu dan momen tertentu ketika memiliki rencana untuk berlibur ke tanah rencong. Seperti pulau Weh Sabang yang selalu ramai dikunjungi tidak hanya oleh masyarakat Aceh namun juga wisatawan yang datang dari luar di masa liburan hari raya maupun liburan akhir tahun. Dikarenakan di waktu-waktu tersebutlah sabang akan ramai dan semakin menarik untuk dikunjungi. Seperti Halnya juga kota dingin Takengon yang memancing wisatawan untuk berkunjung dengan pergelaran pacuan kudanya yang diselenggarakan setiap dua kali dalam setahun oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.
Aceh Jaya merupakan salah satu daerah di Aceh yang didominasi wilayah pesisir dan barisan pegunungan. Pesona alam Kabupaten yang bertetangga dengan Aceh Besar dan Aceh Barat ini menyimpan keindahan yang sangat memukau.

Jika ingin berliburan ke darah ini, coba untuk berkunjung ke gampong Glee Joeng, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. karena disini kita akan menemukan pesisir pantai dengan batuan karang yang memukau. Selain itu tempat ini dapat menjadi destinasi wisata lengkap bagi anda dan keluarga.
kenapa demikian, karena seperti yang dijelaskan di awal Kabupaten Aceh Jaya juga memiliki perayaan khusus yang telah menjadi magnet wisatawan setiap tahunnya. Tepatnya di bulan Dzulhijjah bertepatan perayaan hari raya Idul Adha, diselenggarakan tradisi adat Seumuleung.
Di Gampong Glee Joeng terdapat sebuah destinasi wisata sejarah dan budaya yakni Makam Sultan Salatin Alaidin Ri’yat Syah atau lebih dikenal dengan Po Teumeureuhom Daya. Lokasi makam berada diatas bukit dan berhadapan langsung dengan pantai.
Sebelum naik ke lokasi makam yang mengharuskan wisatawan menanjaki 99 anak tangga di atas bukit. Pengunjung dapat menikmati hamparan pantai yang cukup luas dengan pasir hitam berkilau ketika terkena Cahaya matahari. Masyarakat sekitar memiliki banyak sebutan bagi pantai ini, ada yang menyebutnya pantai kuala daya dan ada yang menamainya pantai tebing.
Adanya bebatuan besar sepanjang pantai menjadikan pantai ini begitu eksotis, aliran ombak kerap mengalir antara selah bebatuan yang memunculkan genangan air berupa kolam dan sungai dangkal. Lokasi ini kerap digunakan oleh anak-anak untuk berenang karena airnya tenang dan dangkal.
Pantai ini setiap akhir pekan cukup ramai dikunjungi, dan menjadi destinasi favorit warga Aceh Jaya. Tiap akhir pekan tempat ini dipenuhi oleh pedagang namun di momen khusus tepatnya di hari raya Idul Adha bertepatan dengan diselenggarakannya kegiatan adat Seumuleung pantai ini semakin ramai dipadati oleh pengunjung dan para pedagang.

Pesisir pantai seketika berubah layaknya lokasi pasar dengan pedagang menjajakan dagangannya di sepanjang jalan yang langsung bersebelahan dengan pesisir pantai. Terpal dan tenda dibentangkan di sepanjang pantai dan beberapa titik lokasi. Wisatawan yang datang dapat memilih jajanan dan berbelanja pernak Pernik. Tempat bermain anak juga tersedia disana, mereka dapat bermain di playground ataupun mencoba mengendarai motor roda empat ATV mengitari pantai.
Pesona keindahan pantai dengan keramaian masyarakat yang hadir untuk menyaksikan prosesi tradisi adat Seumuleung adalah kearifan lokal yang menarik untuk kita ikuti.
Makam Po Teumeureuhom Daya dan tradisi adat Seumuleung
Sultan Salatin ‘Alaidin Riayat Syah atau Po Teumeureuhom merupakan sosok yang cukup berpengaruh di Aceh. Sehingga ada ungkapan “Adat bak Po Teumeureuhom hukom bak Syiah Kuala”. Kedua ulama ini sangat dihormati dan berpengaruh di Aceh.
Sultan Salatin Alaidin Ri`Ayat Syah bin Abdullah Malikul Mubin merupakan pendiri kerajaan islam Negeri Daya Pada tahun 1480 masehi. Dimana pusat pemerintahannya berada di Lamkuta dan Kuta Dalam.
Sultan Salatin Alaidin Ri`Ayat Syah wafat tahun 906 Hijriah dan dimakamkan di puncak Glee Kandang, Gampong (desa) Glee Joeng. Di Dalam komplek makam tersebut juga terdapat dua makam anaknya yaitu Putri Nurul Huda dan Radja Uzir Syah. Raja Uzir memerintah dalam masa beberapa tahun saja dan mangkat pada bulan jumadil Awal 931 H (1526). Dilanjutkan oleh Putri Nurul Huda memegang pemerintahan Negeri daya selama 23 tahun beliau mangkat pada 11 Muharram 960 H.
Wisatawan yang ingin berkunjung ke makam Sultan Salatin ‘Alaidin Riayat Syah selain dapat melihat langsung makan sang sultan juga dapat melihat keindahan salah satu pantai indah kabupaten Aceh Jaya.
Namun perayaan adat Seumuleung yang dilaksanakan setiap bulan Dzulhijjah bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Adha yang menjadi daya tarik dari destinasi wisata ini. Sebuah tradisi yang tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat untuk mengenang sang sultan dan merayakan masa berdirinya kerajaan Jaya.
Tradisi ini sudah berjalan lebih kurang lima abad setengah. Seumuleung merupakan upacara untuk memperingati Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah (Po Teumeureuhom) yang dilaksanakan oleh keturunan-keturunan beliau hingga kini yang membentuk IKADA (Ikatan keluarga besar meureuhom daya). Pelaksanaannya sesuai dengan masa aslinya lengkap dengan personil yang terdiri dari raja, panglima, kadhi,dayang kawai dan kawai luar, majelis ulama keturunan raja, tokoh masyarakat,alim ulama, hadirin dan para pengunjung yang biasanya diawali dengan penyembelihan hewan kurban hasil masyarakat kemukiman kuala daya dan sekitarnya. Pada setiap Iduladha tempat ini sangat banyak dikunjungi peziarah dan wisatawan yang ingin menyaksikan kegiatan yang sakral dan sarat akan sejarah ini.

Hal yang selalu dirasakan oleh warga setempat dan wisatawan yang menyaksikan acara adat ini adalah bagaimana kerukunan dalam mempertahankan upacara Seumeuleung sebagai hari mangkatnya Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah sebagai Raja karena telah mempersatukan Agama-agama yang berbeda pada empat kerajaan sehingga tunduk kepada satu kerajaan yang beragama Islam yaitu kerajaan Negeri Kuala Daya.
Berlibur ke kabupaten Aceh Jaya tepatnya di gampong Glee Joeng, Kecamatan Jaya memberikan pengalaman yang lengkap bagi para wisatawan. Kita dapat melihat keindahan pesisir Aceh Jaya, berziarah ke makam salah satu raja dan ulama besar Aceh serta menyaksikan langsung proses adat kerajaan yang telah dipertahankan secara turun temurun. Ayo berlibur ke Aceh Jaya, menikmati keindahan alam sembari mengenal sejarah dan budaya leluhur yang patut kita jaga dan promosikan sebagai sebuah kekayaan budaya. (NF)
Penulis: Nuris Fadhilahs








