Penulis Syafril Yunus (Sekretaris Komite Percepatan Pemekaran Provinsi ABAS)
Simeulue, Kabupaten yang lahir pada 12 Oktober 1999 melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1999 tentang Pembentukkan Kabupaten Simeulue dan Bire’un di Provinsi Aceh kini telah berusia 27 tahun. Simeulue terus menunjukkan transformasi sebagai Kabupaten yang adaptif, produktif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup warganya melalui pembangunan yang berkelanjutan, inklusif dan bermartabat.
Sepanjang 27 tahun itu pula, Kabupaten Simeulue sudah lima kali berganti pemimpin. Dimulai dari Bupati Mohammad Amin, Drs Darmili (2 periode), Drs Riswan NS, Erly Hasyim SH,MH, hingga sekarang Mohammad Nasrun Mikaris, SH.MH (Monas).
Momentum Hari Ulang Tahun ini tidak hanya menjadi refleksi atas capaian yang telah diraih, tetapi juga penegasan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat persatuan serta menjawab tantangan ekonomi melalui berbagai langkah pembenahan dan penguatan kebijakan pembangunan. Tanpa menegasikan beberapa pencapaian selama kepemimpinan mereka, tetapi harus diakui bahwa pencapaian tersebut belum mampu memberikan ukiran sejarah yang monumental bagi Kabupaten Simeulue, meskipun sudah banyak perubahan dan kemajuan yang dicapai di berbagai sektor pembangunan, Perkembangan dan perubahan itu dapat dirasakan dengan meningkatnya interaksi manusia di wilayah seluas 2.310 km2 ini yang terbagi dalam 138 Desa dan 10 kecamatan ini.
Dalam hal gerak arus ekonomi Kabupaten Simeulue bisa dan mampu menjadi simpul ekonomi maritim yang menghubungkan wilayah-wilayah penting di Provinsi Aceh, atau yang sering disebut sebagai kawasan “Jalur Mutiara” Barat Selatan Aceh. Kabupaten Simeulue bisa menjadi pemasok perdagangan hasil laut di kawasan barat selatan Aceh (seperti Aceh Jaya, Aceh Barat, Abdya, Aceh Selatan dan Aceh Singkil) serta dengan ibu kota provinsi Sumatera Utara (Medan) dan wilayah pesisir Sumatera (Nias,Padang,hingga terusan Bengkulu dan Mentawai)
Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Kabupaten Simeulue tumbuh 3,05 persen pada Tahun 2025. Secara regional, angka target 3,05 persen ini dikategorikan cukup positif dan berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh pada periode yang sama.
Kontribusinya terhadap perekonomian Aceh menegaskan kembali posisi Simeulue sebagai motor penggerak ekonomi di Acèh. Sebagai zona perdagangan hasil hutan dan laut sejak zaman dulu, Simeulue memiliki potensi ekonomi yang sangat kuat. Namun, jika melihat rekam jejak internal Kabupaten Simeulue dalam beberapa tahun terakhir, angka 3,05 persen ini menunjukkan penurunan laju pertumbuhan.
Sektor penopang utama seperti pariwisata, perikanan, pertanian, kehutanan, perdagangan, serta penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi motor utama yang perlu didorong agar kualitas pertumbuhannya bisa meningkat kembali ke angka 4 persen ke atas. Di tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simeulue sempat tumbuh lebih agresif.
Perayaan HUT Sederhana
Peringatan hari jadi ke 27 Tahun Kabupaten Simeulue tahun ini, dilaksanakan dalam kesederhanaan namun hikmad bagi masyarakat. Kalau di tahun sebelumnya semua perlombaan dan even2 daerah dilombakan ditahun ini tetap juga dilaksanakan, Ada sedikit kemajuan dalam merangkul keikutsertaan masyarakat dalam setiap perlombaan/even panitia juga mengundang peserta dari Kabupaten tetangga dalam wilayah Aceh Barat Selatan. (ABAS).
Suasana kesederhanaan namun hikmat bagi masyarakat memang telah di sampaikan oleh Bupati Monas, bahwa kita tidak harus melakukan HUT ini dengan gemerlapnya kembang api di saat kita dalam kondisi devisit anggaran. Tapi, Bupati Monas berharap walau dengan keserhanaaan namun tidak menghilangkan rasa kemeriahan, silakan masyarakat berpesta namun ingat tetap optimis dengan tujuan kita menuju Simeulue yang bermartabat dan mewujudkanya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di tahun 2030.
Demikianlah, tema peringatan ulang tahun yang tersebar diseluruh sudut Kabupaten. Tema itu, sekaligus sebagai aktualiasasi dari semangat pantang menyerah, dan tetap bersemangat untuk bangkit di tahun 2030.
Kabupaten Simeulue untuk Generasi Muda
HUT ke-27 Simeulue adalah saat yang tepat untuk bertanya: Kabupaten Simeulue milik siapa? Jawabannya: tentu milik generasi muda hari ini dan esok.
Maka, pembangunan Simeulue harus didasarkan pada kebutuhan dan aspirasi generasi muda. Sayangnya, saya belum melihat cukup ruang dialog dan partisipasi yang bermakna dari pemuda dalam penyusunan strategi kebijakan Kabupaten Simeulue.
Di era digital, pemuda Kabupaten Simeulue sangat berpotensi menjadi agen perubahan. Mereka kreatif, adaptif, dan punya akses teknologi yang cukup. Tapi ruang ekspresi mereka harus difasilitasi.
Pemerintah bisa membangun Youth Center di ibukota Kabupaten sebagai wadah ekspresi, memberikan beasiswa untuk pemuda-pemudi berprestasi, hingga membentuk forum dialog rutin antara pemuda dan pemimpin kabupaten. Dengan demikian, pembangunan menjadi proses bersama,dinamika bersama bukan milik segelintir elit saja.
Usia 27 tahun bukan angka yang kecil. Tapi dalam pembangunan kota, usia hanyalah angka jika tidak disertai arah dan visi-misi yang besar.
Simeulue, Kota Impian di tengah Samudra
Di usia ke-27 tahun, setidaknya terdapat empat tantangan utama yang perlu menjadi perhatian.
Pertama, Simeulue Zero Victim penguatan mitigasi bencana, sistem peringatan dini, serta pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan. Ini penting karena Simeulue salah satu wilayah yang rentan terhadap bencana. Melalui program Simeulue Zero Victim pemgembagan sistim penanganan bencana harus terintegrasi dan tangguh, dan jangan lupa masyarakat sudah membuktikan kesiapannya dalam menghadapi bencana dengan kearifan lokalnya Smong. Untuk tidak menghilangkan kearifan tersebut sudah sepantasnya Pemerintah Pusat dan Aceh harus memikirkan bagaimana membangun pusat studi kebencanaan di Kabupaten Simeulue sebagai pembelajaran untuk anak cucu kita nantinya.
Kedua, Peningkatan Invest in paradise, pengembangan potensi wisata bahari dan mendorong ekonomi biru dengan program strategisnya The Blue Ekonomi Hub of Aceh serta, perluasan lapangan kerja. Meski sektor UMKM, khususnya hasil laut, (lopters,gurita,dan ikan) terus berkembang, peluang kerja bagi pemuda-pemudi lulusan perguruan tinggi masih menjadi tantangan sehingga diperlukan penguatan industri-industri kreatif dan peningkatan investasi.
Ketiga, Pengembangan kualitas dan penguatan SDM Aparatur yang bebas KKN, pelayanan prima sektor kesehatan, pendidikan, dan akserelasi pelayanannya harus menjangkau sampai ke dasar, para lansia dan anak anak wajib mendapat akselerasi pelayanan yang baik.
Keempat, Menjaga identitas budaya Simeulue/Manjago Vano di tengah derasnya arus modernisasi. Upaya pelestarian Adat Istiadat dan budaya, termasuk keberadaan lahan produktif dan non produktif, menjadi bagian penting agar kemajuan pembangunan tetap berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai lokal.
Refleksi hari jadi Kabupaten Simeulue ke-27 ini saya sampaikan bukan untuk menggurui atau menyalahkan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk cinta saya yang menginginkan Simeulue menjadi lebih baik, lebih inklusif, dan lebih bermartabat.
Semoga di usia ke-27 ini, Simeulue tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga secara sosial, budaya, ekonomi dan spiritual. Mari kita semua, baik yang di kampung maupun yang jauh di luar pulau menjadikan hari ini sebagai titik tolak menuju Simeulue yang bermartabat dan sebagai pusat ekonomi biru di Aceh nantinya. Pemerintah Kabupaten Simeulue terus mengukir sejumlah prestasi penting sepanjang tahun 2026. Prestasi dan penghargaan di sektor Pendidikan, kesehatan, Keterbukaan Informasi Public, Adat Istiadat, Kuliner dan hingga penguatan keagamaan terus di diraih, mudah-mudahan prestasi ini terus berlanjut hingga tahun 2030.
Makna HUT Simeulue
Ulang Tahun Kabupaten Simeulue seharusnya dimaknai sebagai laporan pertanggungjawaban moral seluruh penyelenggara pemerintahan kepada masyarakat.
Sejarah tidak pernah mengingat seberapa meriah seremoni diselenggarakan. Sejarah hanya mencatat apakah setiap pergantian kepemimpinan berhasil meninggalkan kota yang lebih tertib, lebih sehat, dan lebih adil dibanding sebelumnya. Itulah ukuran yang sesungguhnya. tidak cukup hanya menjadikan pusat ekonomi namun juga pemerintah harus bisa dan mampu melayani warganya.
Tantangan tersebut harus dijawab dengan langkah strategis dan kolaboratif, mulai dari penguatan kemitraan dengan Pemerintah Pusat dan Aceh, Penguatan Investasi, Pengembangan UMKM, hingga Inovasi Tata Kelola Pemerintahan agar lebih efektif, responsive dan bermartabat.
Dirgahayu Kabupaten Simeulue yang ke 27 Tahun. Semoga semakin maju, jaya,jaya,jaya dan terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat.












