SIMEULUE, IDBN.News – Lembaga Simeulue Lestari menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pihak yang selama ini terlibat dalam kerja-kerja sosial kemasyarakatan di Kabupaten Simeulue, Selasa (18/8).
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk membangun kembali komunikasi dan koordinasi lintas lembaga sosial, sehingga berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat dapat ditangani secara lebih terkoordinasi.
Itu disampaikan Direktur Eksekutif Simeulue Lestari, Syafril Yunus dalam pers rilis yang diterima IDBN.News penjelasannya, FGD, merupakan upaya membuka kembali jejaring koordinasi antarlembaga sosial yang selama ini dinilai belum berjalan optimal.
“FGD ini pada dasarnya untuk membuka dan membangun kembali jalinan koordinasi lintas lembaga sosial yang ada di Simeulue. Selama ini lembaga-lembaga sosial terkesan berjalan sendiri-sendiri, sehingga ketika muncul persoalan sosial kemasyarakatan, penanganannya belum terkoordinasi dengan baik,” kata Syafril.
Menurutnya, lembaga sosial memiliki peran penting dalam membantu masyarakat, namun membutuhkan komunikasi dan kolaborasi yang kuat agar kerja-kerja sosial tak berjalan secara parsial. Ia berharap FGD tersebut menjadi momentum untuk kembali membangun kebersamaan dan jejaring kerja antarlembaga sosial di Simeulue.
“Kami berharap melalui FGD ini koordinasi dan kebersamaan antarpelaku sosial dapat kembali terbangun. Dengan begitu, berbagai persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat bisa ditangani secara bersama-sama,”katanya lagi.
Pada kegiatan tersebut, Simeulue Lestari juga menghadirkan Koordinator BFLF (Blood For Life Foundation) Kota Lhokseumawe, Mutia Sari, yang turut berbagi pengalaman dalam mengelola gerakan sosial dan menghimpun dukungan masyarakat untuk membantu warga yang membutuhkan.
Mutia, menceritakan pengalaman BFLF saat menghimpun dana umat untuk membantu pasien yang membutuhkan donor darah maupun pembiayaan penanganan penyakit, termasuk pasien jantung dan stroke yang sebagian besar merupakan kelompok lanjut usia.
Selain itu, gerakan sosial tersebut juga telah dilakukan untuk membantu pembangunan rumah dhuafa, masjid, serta pengadaan sumur bor bagi masyarakat.
Salah satu pola yang dikembangkan papar Mutia, yakni, gerakan sedekah rutin sebesar Rp10.000 per bulan. Dana tersebut dihimpun melalui kelompok-kelompok yang dibentuk dan digerakkan oleh para relawan sosial.
“Yang terpenting adalah membangun rasa kebersamaan dan kepedulian. Dana yang terkumpul dari masyarakat kemudian langsung diarahkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Mutia.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pekerja sosial di Simeulue untuk membangun gerakan bersama yang lebih terorganisasi.
Bahkan ia menyatakan kesiapannya membantu memperluas jaringan pendanaan serta memberikan dukungan bagi penguatan lembaga-lembaga sosial yang ada di Simeulue.
Dalam diskusi, para peserta menilai keberadaan lembaga sosial seperti BFLF perlu diperkuat di Kabupaten Simeulue. Lembaga tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu penggerak dalam penanganan berbagai persoalan sosial masyarakat.
Salah satu gagasan yang mengemuka yaktu, pengembangan rumah singgah sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan pendampingan, terutama warga yang menghadapi persoalan kesehatan maupun kondisi sosial tertentu.
Di akhir kegiatan, peserta FGD merekomendasikan adanya penguatan kepengurusan BFLF (Blood For Life Foundation) di Kabupaten Simeulue. Tujuannya, untuk membangun jejaring dan gerakan sosial yang lebih terkoordinasi.
Rekomendasi tersebut diharap bisa menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara pekerja sosial, lembaga pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, media, dan berbagai elemen masyarakat dalam menangani persoalan sosial di Kabupaten Simeulue.
Amatan media ini, FGD tersebut diikuti berbagai unsur, di antaranya Pemerintah Daerah, DPRK, Kodim, Lanal, Polres, BPBD, Basarnas, RSUD, LSM, organisasi kemasyarakatan, media, serta para pekerja sosial di Kabupaten Simeulue.







